Mahmoud Ahmadinejad, Mantan Presiden Iran Dikabarkan Tewas Akibat Serangan AS

Kabar Duka: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilapok Tewas dalam Serangan Udara

Sebuah kabar duka datang dari Iran setelah mantan presidennya, Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat. Serangan tersebut menghantam kediamannya di kawasan Narnak, timur laut Teheran. Media pro-rezim melaporkan bahwa Ahmadinejad (69 tahun) meninggal bersama para pengawalnya. Informasi ini pertama kali disiarkan oleh kantor berita ILNA, yang menjadi sumber utama informasi tentang kejadian tersebut.

Kabar ini memicu perhatian luas, mengingat sosok Ahmadinejad yang pernah memimpin Iran selama dua periode. Ia dikenal sebagai pemimpin yang kerap menampilkan citra merakyat di tengah dinamika politik negaranya. Gaya hidupnya yang sederhana sering menjadi sorotan, bahkan ia pernah diberitakan mengenakan jas yang sobek dalam sebuah kesempatan resmi.

Latar Belakang dan Perjalanan Politik Mahmoud Ahmadinejad

Mahmoud Ahmadinejad lahir dengan nama Mahmoud Saborjhian pada 28 Oktober 1956 di desa Aradan, dekat Garmsar. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara dalam keluarganya. Ayahnya, Ahmad Saborjhian, bekerja sebagai pandai besi. Dalam perjalanan politiknya, Ahmadinejad dikenal sebagai salah satu tokoh paling vokal dalam menentang Israel dan negara-negara Barat. Ia menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode, yakni dari 2005 hingga 2013.

Sebelum menduduki kursi kepresidenan, ia pernah menjabat sebagai Gubernur Provinsi Ardabil dan Wali Kota Teheran. Setelah menyelesaikan masa jabatannya, ia diangkat oleh Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, menjadi anggota Dewan Penentu Kebijakan. Dewan tersebut merupakan badan penasihat yang beranggotakan 48 orang dan berada di bawah Kantor Pemimpin Tertinggi Iran, menjadikannya tetap berpengaruh dalam lingkaran elite politik negara tersebut.

Rekam Jejak dan Peran dalam Revolusi Iran

Ahmadinejad aktif sebagai aktivis mahasiswa sejak muda. Saat keluarganya pindah dari Aradan ke Teheran pada 1957, ia mengganti nama keluarganya menjadi Ahmadinejad. Ia menghabiskan masa kecil dan remajanya di Teheran, kemudian melanjutkan pendidikan tingginya mempelajari teknik sipil di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) pada 1976. Sebagai mahasiswa, Ahmadinejad termasuk pemuda yang aktif berorganisasi. Dia bahkan menjadi salah satu penggerak aksi demonstrasi selama berlangsungnya Revolusi Iran pada 1978-1979.

Ahmadinejad juga bergabung dengan kelompok milisi bentukan Ayatollah Ruhollah Khomeini, Korps Garda Revolusi Islam Iran. Dia bahkan turut dalam Perang Irak-Iran (1980-1988). Setelah menyelesaikan masa tugasnya di kelompok milisi, pada 1986, Ahmadinejad melanjutkan pendidikan di IUST dan meraih gelar doktor untuk teknik dan perencanaan transportasi. Pada 1989, dia bergabung dengan IUST dan menjadi salah satu pengajar di kampus tersebut.

Karier Politik dan Kehidupan Publik

Ahmadinejad mulai mengabdi di pemerintahan setelah dia ditunjuk sebagai gubernur di kota Maku dan Khoy, di Provinsi Azerbaijan Barat. Pada 1993, dia dipercaya menjadi penasihat di kementerian kebudayaan dan pendidikan tinggi. Ahmadinejad kemudian ditunjuk menjadi gubernur untuk Provinsi Ardabil, yang baru dibentuk. Dia menjabat hingga 1997 dan setelahnya kembali menjadi pengajar di IUST.

Selama menjabat sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad dipuji karena dianggap telah berhasil mengatasi masalah lalu lintas dan menekan harga. Berkat karisma dan keterampilan berpolitiknya, Ahmadinejad dengan cepat meraih banyak dukungan. Pada 2005, ia mencalonkan diri dalam pemilihan presiden dengan dukungan penuh dari para pemimpin konservatif. Dia melakukan pendekatan yang merakyat dan berjanji untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan sosial di Iran, serta memberantas korupsi.

Akhir Hayat dan Serangan Udara

Pada hari Sabtu (28/2/2026), AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target di Iran. Serangan ini memicu ledakan di ibu kota Teheran dan peningkatan ketegangan di seluruh kawasan. Tak lama kemudian, Presiden AS Donald Trump mengunggah pernyataan video yang mengumumkan operasi tempur AS di Iran, dengan tujuan menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi.

Laporan lapangan menunjukkan asap tebal mengepul di atas distrik Pasteur, Teheran, yang merupakan lokasi kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Otoritas Iran pun segera melakukan pengerahan keamanan besar-besaran di ibu kota. Pihak AS dan Israel menegaskan bahwa operasi ini menargetkan situs-situs militer. Militer Israel juga mengeluarkan peringatan agar warga sipil Iran menjauhi infrastruktur militer demi menghindari korban jiwa.

Disebutkan bahwa serangan tersebut merupakan tindak lanjut dari perencanaan bersama selama berbulan-bulan antara AS dan Israel.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *