Sejarah Panjang Konfrontasi Amerika Serikat dan Iran
Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak hanya terbatas pada isu nuklir atau keamanan kawasan, tetapi juga dipengaruhi oleh perebutan pengaruh dan sumber daya, terutama minyak. Titik balik pertama dalam hubungan ini terjadi pada tahun 1953 ketika Perdana Menteri Iran yang terpilih secara demokratis, Mohammad Mossadegh, berusaha menasionalisasi industri minyak yang saat itu dikuasai perusahaan Inggris. Kebijakan ini memicu operasi rahasia CIA bersama intelijen Inggris untuk menggulingkannya. Kudeta tersebut mengembalikan Mohammad Reza Pahlavi sebagai shah, menjadikan Iran sebagai sekutu utama AS di kawasan.

Poster Imam Khomeini di tengah pengunjuk rasa di Teheran. – (Public Domains)
Pada tahun 1957, Washington menandatangani kerja sama nuklir sipil dengan rezim Pahlevi. Fondasi inilah yang kelak berkembang menjadi program nuklir kontroversial Iran. Namun, rezim Shah yang otoriter memicu gelombang protes besar. Revolusi 1979 melahirkan Republik Islam di bawah Ayatollah Ruhollah Khomeini. Krisis sandera Kedutaan Besar AS di Teheran selama 444 hari memutus total hubungan diplomatik kedua negara—dan tak pernah benar-benar pulih.
Ketegangan kian dalam saat AS mendukung Irak dalam Perang Iran-Irak (1980-1988). Pada 1984, Washington menetapkan Iran sebagai “negara sponsor terorisme”. Empat tahun kemudian, kapal perang AS menembak jatuh Iran Air Penerbangan 655, menewaskan 290 orang. Bagi Teheran, ini bukan kecelakaan, melainkan simbol permusuhan permanen.
Pasca-serangan 11 September 2001, sempat muncul kerja sama diam-diam melawan Taliban. Namun Presiden George W. Bush memasukkan Iran dalam “Poros Kejahatan”. Isu nuklir kembali mengemuka pada 2003 ketika IAEA menemukan jejak uranium yang diperkaya. Negosiasi panjang berujung pada kesepakatan bersejarah 2015 (JCPOA) di era Barack Obama. Iran membatasi program nuklirnya, imbalannya sanksi dicabut.
Kesepakatan itu runtuh ketika Donald Trump pada 2018 menarik AS keluar dan menerapkan kembali sanksi berat dalam kebijakan “tekanan maksimum”. Iran membalas dengan meningkatkan pengayaan uranium. Ketegangan memuncak pada Januari 2020 saat drone AS menewaskan Jenderal Qasem Soleimani di Baghdad. Iran membalas dengan serangan rudal ke pangkalan AS di Irak.
Di era Joe Biden, upaya menghidupkan kembali JCPOA dilakukan melalui perundingan di Wina. Namun pembicaraan tersendat, terlebih setelah Iran meningkatkan pengayaan hingga 60 persen dan dinamika politik domestik di kedua negara berubah. Di tengah kebuntuan itu, Iran juga mempererat hubungan militer dengan Rusia dalam perang Ukraina.
Babak Baru Ketegangan
Babak baru ketegangan muncul pascaserangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Meski Washington menyatakan Iran tidak mengetahui rencana serangan itu, dukungan lama Teheran terhadap Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan lain membuat Iran kembali menjadi sorotan. AS memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah untuk melindungi Israel dan mencegah konflik meluas.
Sejak Oktober 2023 hingga awal 2024, milisi yang didukung Iran di Irak dan Suriah meningkatkan serangan terhadap basis militer AS. Washington membalas dengan serangan udara ke sejumlah target. Eskalasi mencapai titik dramatis pada April 2024 ketika Iran, untuk pertama kalinya, melancarkan serangan langsung ke Israel dengan ratusan rudal dan drone sebagai respons atas serangan Israel ke fasilitas diplomatik Iran di Damaskus. AS dan sekutunya membantu Israel mencegat sebagian besar proyektil tersebut.
Memasuki akhir 2023 dan tahun 2024, Iran mulai secara langsung melepaskan rudal balistik dan drone ke arah Israel sebagai respons atas berbagai serangan militer yang menargetkan komandan Garda Revolusi Iran di Suriah serta dukungan AS-Israel dalam perang Gaza. Washington menolak terlibat langsung dalam serangan balasan itu, tetapi tetap memperkuat pertahanan Israel dan menegaskan dukungan politiknya.
Konfrontasi Sempat Mencapai Puncak
Konfrontasi sempat mencapai puncaknya ketika Iran dalam beberapa insiden meluncurkan ratusan misil ke wilayah Israel, yang kemudian dicegat oleh pertahanan udara Israel dengan bantuan militer Amerika. AS mengutuk serangan Iran sebagai eskalasi serius dan menguatkan kembali tekadnya berpihak pada keamanan Israel.
Dalam periode ini, upaya diplomasi antara Washington dan Teheran terus berlanjut meski penuh hambatan. Pembicaraan nuklir tidak langsung yang dimediasi beberapa pihak ketiga seperti Oman dan negara-negara Eropa sempat menunjukkan harapan untuk mengembalikan kerangka kesepakatan nuklir tahun 2015. Namun, perbedaan mendasar soal hak Iran memperkaya uranium dan pembatasan program misil terus menjadi sandungan utama negosiasi.
Ratusan rudal balistik Iran menyerang Tel Aviv, Israel, pada Selasa (1/10/2024) malam waktu setempat. Aljazirah melaporkan, rincian pasti seputar operasi Iran tersebut masih belum jelas.
Sementara itu, sejumlah negara Arab dan dunia internasional menyerukan penahanan diri, agar konflik yang telah berlangsung puluhan tahun ini tidak berubah menjadi perang regional atau bahkan global. PBB dan beberapa pemerintahan dunia mengecam eskalasi militer dan mengimbau kedua belah pihak menahan diri demi stabilitas kawasan.
Perkembangan Terbaru
Memasuki 2025, Trump kembali ke Gedung Putih dan menghidupkan lagi kebijakan tekanan maksimum. Ia bahkan mengirim surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menawarkan negosiasi baru dengan tenggat waktu dua bulan. Pembicaraan tidak langsung di Oman dan Roma sempat memunculkan optimisme. Namun perbedaan mendasar—terutama soal hak Iran memperkaya uranium—tetap menjadi batu sandungan.
Di tengah upaya diplomasi yang rapuh itu, Israel melancarkan serangan besar ke Iran pada 13 Juni 2025. Serangan itu dibalas Iran dengan ribuan rudal yang sebagian berhasil menembus pertahanan udara Israel dan menimbulkan kerusakan fatal di Tel Aviv. Awalnya AS menjaga jarak, namun dalam hitungan hari Washington menyatakan dukungan terbuka. Pada 22 Juni 2025, AS resmi ikut menyerang target-target situs nuklir di Iran. Langkah ini dipandang banyak pengamat sebagai perubahan besar: dari perang bayangan dan proksi menjadi konfrontasi langsung. Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Qatar, hal yang memicu AS meminta gencatan senjata.
Perundingan Nuklir yang Berkelanjutan
Memasuki pertengahan 2025, setelah konflik militer Israel-Iran yang mengguncang kawasan, AS dan Iran mulai kembali menghidupkan dialog soal program nuklir. Kedua pihak mengadakan pertemuan tidak langsung di Oman dan Swiss dengan harapan dapat mencapai kesepakatan yang mampu meredakan ketegangan. Meski sempat ada “kemajuan prinsipil” dalam perundingan, perbedaan mendasar terkait hak Iran memperkaya uranium serta batasan pada program rudalnya menyebabkan diskusi sulit menemukan titik temu.
Iran menyatakan kesediaannya untuk mencapai kesepakatan nuklir “sesegera mungkin” bila kedua pihak menunjukkan itikad baik. Delegasi Teheran bahkan menawarkan pendekatan kreatif seperti menggabungkan ekspor uranium hasil pengayaan dengan konsorsium regional sebagai imbalan pencabutan sanksi AS. Namun, di pihak Washington, ketegasan pada penghentian program nuklir yang berpotensi militeristik tetap menjadi garis merah dalam pembicaraan.
Persiapan Militer yang Mengkhawatirkan
Sepanjang 2025–2026, putaran demi putaran perundingan melekat erat dengan tekanan militer yang meningkat. Pemerintah AS, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, terus menegaskan bahwa opsi militer tetap di atas meja jika Iran enggan memenuhi tuntutan yang dianggap perlu bagi stabilitas regional. Tekanan ini terlihat nyata melalui penumpukan kekuatan militer AS yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade di kawasan Timur Tengah. Sejak Januari 2026, Pentagon mengerahkan sejumlah besar aset militer besar seperti dua kelompok kapal induk, ratusan jet tempur, kapal perusak berpeluru kendali, serta unit logistik — menjadikan ini salah satu konsentrasi kekuatan Amerika terbesar di kawasan sejak Perang Irak.

Kapal induk USS Gerald Ford. – (Dok Angkatan Laut AS)
Keberadaan armada ini bukan hanya simbol ancaman, tetapi juga sinyal bahwa Washington siap mengambil langkah militer jika diplomasi gagal. Operasi ini mencakup penempatan kapal induk USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln, serta jet-jet canggih yang ditempatkan di negara-negara tetangga di Teluk Persia.
Ancaman terhadap Iran juga ditandai dengan peringatan resmi dari AS bahwa jika negosiasi nuklir gagal, tindakan militer akan “tak terhindarkan”. Hal ini membuat warga Iran merasa hidup dalam situasi di mana “bukan perang, bukan damai” — penuh kecemasan apakah perundingan akan membuahkan hasil atau justru berujung pada serangan.
Penutup
Menjelang akhir Februari 2026, perundingan nuklir kembali digelar di Jenewa, Swiss, menyusul beberapa sesi sebelumnya yang tidak menghasilkan kesepakatan final. Delegasi dari kedua negara, termasuk utusan AS dan pejabat tinggi Iran, kembali berupaya mencari jalur keluar dari kebuntuan. Namun, ketidaksepakatan soal program pengayaan uranium, inspeksi yang diperlukan, hingga pencabutan sanksi masih menjadi halangan besar.
Sementara itu, Presiden Trump mengakui frustasi atas sikap Iran dan menyatakan belum mengambil keputusan akhir terkait potensi serangan, tetapi menegaskan bahwa “keputusan final berada di tangannya”. Upaya diplomasi ini seakan berjalan beriringan dengan ancaman akan “konsekuensi serius” jika negosiasi itu gagal.

Asap mengepul di pusat Teheran setelah serangan Israel, 28 Februari 2026. Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 mendahului AS yang lebuh dulu mengancam. – (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)
Situasi yang penuh kecemasan itu akhirnya mencapai puncaknya pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan militer besar terhadap target-target di Iran. Aksi ini dibingkai sebagai upaya untuk menekan program nuklir serta kemampuan rudal Teheran yang dianggap mengancam, sambil menyerukan perubahan rezim. Serangan yang dilaporkan terjadi di berbagai lokasi penting, termasuk di sekitar kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, memaksa kepemimpinan Iran dipindahkan ke tempat aman. Latihan militer besar dan kesiapsiagaan tinggi terjadi di kawasan, dengan sirene darurat diaktifkan dan ruang udara Israel ditutup sementara.
Iran merespons serangan itu dengan tegas, menyatakan akan memberikan balasan yang “menghancurkan”. Negara ini juga memperingatkan bahwa basis militer AS di kawasan dapat menjadi target pembalasan jika serangan berlanjut — menandai eskalasi yang serius dari krisis yang awalnya berakar pada diplomasi nuklir.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












