Sisi Lain Fajar Sadboy yang Viral Dihina Komika Indra Frimawan, Qari Cantik Pembaca Ayat Suci

Fajar Sadboy: Dari Curhatan Cinta hingga Kontroversi di Podcast

Fajar Sadboy atau Fajar Labatjo telah membuktikan bahwa eksistensinya bukan sekadar sensasi sesaat. Meskipun awalnya dikenal lewat video curhat cinta yang viral, ia kini menunjukkan sisi lain dari dirinya yang tidak hanya terbatas pada topik percintaan.

Selain itu, Fajar memiliki bakat lain yang cukup menonjol. Ia mampu merilis lagu, bernyanyi, dan bahkan melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan fasih. Hal ini membuatnya semakin diminati oleh publik, baik dalam dunia hiburan maupun keagamaan.

Sosok di Balik Julukan Sadboy

Nama asli Fajar Sadboy adalah Fajar Labatjo, seorang pemuda asal Provinsi Gorontalo. Ia pertama kali dikenal luas setelah beberapa video curhat dan motivasi bertema percintaan menyebar masif di media sosial. Tangisan polosnya, kata-kata lugas, dan ekspresi emosionalnya menjadi ciri khas yang melekat kuat di benak warganet.

Dalam sebuah podcast, Fajar mengungkapkan bahwa dirinya lahir pada awal tahun 2000-an. Dengan usia di bawah 20 tahun ketika namanya meledak, ia menjadi fenomena nasional yang tak mudah dilupakan.

Multitalenta: Dari Motivator Cinta hingga Qari

Tidak hanya dikenal sebagai “motivator cinta dadakan”, Fajar ternyata memiliki berbagai bakat lain. Ia telah merilis lagu berjudul “Cinta Tak Selamanya Seindah”, yang semakin menambah daya tarik publik terhadap dirinya.

Selain itu, Fajar juga memiliki kemampuan melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suara merdu. Salah satu momen yang paling menyentuh warganet adalah ketika ia membacakan Surat Ar-Rahman dengan fasih dan penuh penghayatan. Hal ini memperlihatkan sisi religius di balik citra viralnya.

Viral Diludahi di Hadapan Kamera

Perjalanan Fajar Sadboy tidak selalu dihiasi simpati. Kontroversi besar muncul ketika ia menjadi tamu bersama Indra Frimawan dalam podcast milik Deddy Corbuzier, yang tayang pada 6 Februari 2026. Dalam rekaman yang beredar luas, Frimawan terlihat membuka percakapan dengan menyinggung pengalaman Fajar tampil di berbagai podcast ternama.

Pertanyaan tersebut dilontarkan karena Fajar sering diundang ke berbagai program televisi dan podcast populer. Faktor kedekatannya dengan Amanda Manopo, yang selama ini dianggap sebagai figur kakak bagi Fajar, juga turut membuat namanya semakin dikenal luas.

Membahas Host Podcast Favorit

Percakapan berlanjut ketika Frimawan mencoba menggali lebih jauh soal host podcast favorit Fajar dari sekian banyak yang pernah mengundangnya. Namun, Fajar memilih jalan aman. Ia tidak menunjuk satu nama pun. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa dirinya menikmati seluruh gaya penyampaian para host podcast yang pernah mengajaknya berbincang.

Fajar secara terbuka mengaku senang saat menjadi tamu di podcast “Logic Kah?” yang dipandu oleh Frimawan sendiri.

Percakapan Mulai Bergeser Arah

Meski demikian, Frimawan secara terbuka menyebut bahwa Fajar bukanlah bintang tamu favoritnya. Pernyataan tersebut justru ditanggapi santai oleh Fajar. Ia berkata, “No problem. Itu mah urusan dia, urusan aku cuma favoritkan seseorang. Dia enggak suka, no problem, dia suka (ya sudah).”

Obrolan kemudian melebar ke topik “favorit” yang semakin tidak terarah. Dalam gaya khasnya, Fajar melontarkan celetukan spontan yang terdengar nyeleneh. “Ente nggak salah, yang salah di Liverpool,” ucap Fajar.

Detik-Detik Aksi yang Memicu Amarah Publik

Ucapan tersebut hanya mendapat respons singkat. Namun, suasana mendadak berubah. Ekspresi Frimawan tampak mengeras. Dalam sekejap, ia diduga meludahi Fajar Sadboy. Fajar terlihat terkejut dan panik. Ia mengelap wajahnya dan memberi gestur tangan seolah ingin mengembalikan ludah tersebut ke arah Frimawan.

Potongan momen inilah yang kemudian tersebar luas di media sosial. Reaksi publik pun tak terbendung. Banyak yang menilai tindakan tersebut telah melampaui batas candaan dan dianggap merendahkan martabat manusia, terlebih dilakukan di ruang publik dan disiarkan ke jutaan penonton.

Sejak saat itu, nama Fajar Sadboy kembali berada di pusat perhatian, bukan karena air mata atau motivasi cintanya, melainkan karena sebuah insiden yang membuka perdebatan besar tentang etika, humor, dan batas perlakuan manusia terhadap sesamanya.

Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *