Kasus Ajat Suderajat, Pedagang Es Gabus yang Kembali Viral
Kasus Ajat Suderajat, pedagang es gabus yang sempat viral, kembali menjadi sorotan setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan pernyataannya tentang kejujuran Suderajat. Penyebutan ini muncul setelah ada indikasi bahwa keterangan Suderajat tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Hal ini memicu kemarahan dari netizen.
Pihak Kecamatan Bojonggede, wilayah tempat tinggal Suderajat, akhirnya memberikan pernyataan terkait sosok Suderajat. Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menyebutkan bahwa hasil asesmen instansi menemukan adanya indikasi disabilitas pada Suderajat dan istrinya. Kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma. Kemampuan verbal keduanya pun menjadi terbatas.
“Terkait banyak rumor tentang Pak Suderajat, mungkin jawabannya ketika ditanya (Dedi Mulyadi dalam video YouTube) selalu berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya,” katanya.
Dari hasil pemeriksaan awal, terdapat dugaan gangguan mental pascatrauma. Hal ini membuat komunikasi dengan yang bersangkutan menjadi tak lancar dan sulit dipahami. “Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah,” ungkapnya.
Tenny melanjutkan bahwa keterangan dari Ketua RT dan RW setempat juga menguatkan adanya keterbelakangan secara psikologis dan mental pada Suderajat. Kondisi tersebut diduga sudah ada sebelumnya, lalu diperparah oleh tekanan trauma setelah kejadian viral. “Kami baru bicara indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas itu istrinya,” katanya.
Bahkan Suderajat pun ketika diajak komunikasi oleh ketua RT dan RW di lingkungan sekitarnya terindikasi ada keterbelakangan secara psikologis dan mental. “Jadi Pak Suderajat itu memiliki disabilitas dan memerlukan perhatian khusus memang. Serta tekanan setelah kejadian (trauma) dan banyaknya orang datang ke rumah saat itu (gak terbiasa ketemu orang banyak),” bebernya.
Pemerintah kecamatan berharap penjelasan tersebut dapat menghentikan spekulasi publik dan mengembalikan persoalan Suderajat pada konteks yang sebenarnya, yakni upaya penanganan warga kurang mampu melalui program perbaikan rumah yang sedang berlangsung.
Tiga Kebohongan yang Diungkap oleh Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti sikap pedagang es gabus, Ajat Suderajat, yang sempat viral setelah dituduh menjual es berbahan spons. Dedi mengungkap tiga pernyataan Suderajat yang dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Hal itu terungkap saat Dedi bertemu kembali dengan Ajat Suderajat dan Ketua RW setempat.
Bohong soal pendidikan anak
Suderajat sebelumnya menyebut anaknya bersekolah di SD negeri. Namun, menurut Dedi, sekolah anak Suderajat ternyata sekolah swasta. “Anaknya yang SD swasta, kata babe kemaren sekolahnya negeri. Ini (yang bener) sekolahnya swasta. Aku kan ngomong sama babeh ini, itu sekolah pasti swasta enggak mungkin bayaran. Sekolahnya swasta makanya bayar,” ujar Dedi Mulyadi seperti dikutip dari YouTube-nya pada Kamis (29/1/2026).
Namun, Dedi mengatakan semestinya anak Suderajat tak perlu membayar iuran meskipun mengenyam pendidikan di sekolah swasta. Ia pun berencana akan mengecek ke pemerintah Kabupaten Bogor jika memang masih dimintai iuran oleh pihak sekolah.
Bohong soal status rumah
Suderajat sebelumnya mengaku mengontrak rumah selama bertahun-tahun. Namun, pengakuan Suderajat dibantah oleh Ketua RW setempat. “Sebenarnya orang tuanya (Suderajat) beliin rumah tahun 2007. Setelah dibelikan, dia tinggal bersama istrinya dan ketiga anaknya saat itu,” kata Ketua RW seperti dikutip dari YouTube Dedi Mulyadi pada Kamis (29/1/2026).
Mendengar penjelasan Ketua RW, Dedi langsung menegur Suderajat karena dianggap tidak jujur. “Babe bilangnya ngontrak, bohong sih. Kenapa sih be bohong terus,” katanya. Suderajat pun mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
Bohong soal warisan
Selain itu, Suderajat juga mengaku hanya mendapatkan warisan sebesar Rp 200 ribu dari orang tuanya. Akan tetapi, Dedi menilai pernyataan itu tidak sesuai fakta lantaran orang tua Suderajat sudah membelikan rumah sejak 2007. “Babe ngebohong. Dia bilangnya saya dikasih warisan cuma Rp 200 ribu padahal dikasih rumah tahun 2007. Babe kemaren bilang hanya kebagian 200 ribu,” katanya.
Ia lalu menasehati Babe untuk bersikap jujur agar hidupnya lebih baik. Dedi Mulyadi pun turut menambahkan dana renovasi rumah kepada Suderajat yang kini mendapatkan program Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni) dari pemerintah daerah. Ia menitipkan dana tambahan renovasi kepada Ketua RW yang memimpin renovasi rumahnya.
Perasaan Dedi Tak Enak
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menemui langsung Ajat Suderajat, penjual es gabus yang sempat menjadi korban dugaan penganiayaan aparat setelah dituduh menjual es berbahan spons. Dedi Mulyadi membagikan momen pertemuan itu melalui akun Instagram pribadinya.
Dalam video tersebut, Dedi terlihat memberikan uang segepok kepada Suderajat. Namun, setelah memberikan uang itu, Dedi mengambil sebagian lantaran dikhawatirkan uang itu malah dipakai sendiri oleh Suderajat tanpa membayar kewajibannya. “Mau buat apa itu?” tanya Dedi Mulyadi. “Buat bayar sekolah pak,” kata Suderajat. Mendengar jawaban itu, Dedi Mulyadi justru mengambil kembali uang tersebut. Ia lalu mengatur sendiri peruntukkan bantuan itu agar benar-benar digunakan tepat sasaran.
“Bayar kontrakan setahun, nih saya aturin biar bapak beres. Nih buat kontrakan setahun, setahun kali 800 berapa? Rp 9,6 juta. Bayar sekolah dua ratus (ribu), bayar ke warung dua ratus (ribu), pas Rp 10 juta. Awas dibayarin ya. Bayar kontrakan. Atau saya uangnya ambil deh,” kata Dedi seraya mengambil kembali uang itu.
Dedi pun akan membayar kontrakan Suderajat sendiri. Ia khawatir bantuan yang diberikan disalahgunakan. “Aku langsung bayarin kontrakannya sama saya, takut enggak dibayarin. Ini saya kasih untuk bayaran sekolah sambil ngecek ke sekolahnya. Bayaran sekolahnya saya cek dulu, kontrakannya akan saya bayar satu tahun.”
“Saya enggak percaya ama bapak bayar kontrakan sama sekolah. Sama bayar ke warungnya nanti staf saya yang bayarin. Ini aja buat modal bapak Rp 5 juta buat modal dagang. Buat beli beras segala macam sampai sebulan,” jelasnya.
Koreksi Tunggakan Suderajat
Dalam percakapan di mobil itu, Dedi juga sempat mengoreksi keterangan Suderajat soal tunggakan biaya sekolah anaknya. Ia menilai ada kejanggalan antaran jumlah yang disebutkan dengan biaya sekolah negeri pada umumnya. Pasalnya, Suderajat mengaku belum membayar biaya sekolah anaknya sebesar Rp 1,5 juta karena sudah empat bulan menunggak.
Menurut Dedi Mulyadi, jumlah tersebut terlalu besar untuk bayaran sekolah negeri. “Enggak mungkin sekolah SD bayar Rp 200 ribu. Enggak mungkin pak. Nanti saya cek sekolahnya,” katanya. “Udah sebulan pak,” jawab Suderajat. Mendengar itu, Dedi Mulyadi merasa heran dan bertanya kembali. “Loh, sebulan atau empat bulan (nunggak)? Jangan ngarang. Gimana,” cecar Dedi. “Sebulan pak,” jawabnya.
“Kalau mau hidup maju harus jujur. Kalau kita tidak jujur, nanti hidupnya susah,” kata Dedi mengingatkan.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












