Budaya  

Paus Leo XIV Dapat Kejutan Patung Santo Yusuf Arimatea dari Indonesia

Patung Yusuf Arimatea, Karya Seni Indonesia yang Diterima Paus Leo XIV

Paus Leo XIV menerima patung Yusuf Arimatea dalam audiensi di Vatikan menjelang Hari Raya Paskah. Patung ini merupakan karya seni pertama di Indonesia yang menggambarkan proses penurunan tubuh Yesus Kristus dari salib. Karya ini menampilkan detail simbolik yang unik, termasuk penggunaan warna dan penamaan khusus.

Delegasi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) juga menandatangani nota kesepahaman (MOU) penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News. MOU ini bertujuan untuk memperkuat hubungan antara Gereja Katolik Indonesia dengan Takhta Suci.

Pada Senin (30/3/2026), Paus Leo XIV mendapatkan kejutan jelang Paskah. Patung St Yusuf dari Arimatea diberikan oleh Stanislaus Jumar Sudiyana kepada Paus saat delegasi PWKI dan KWI beraudiensi di Lapangan St Petrus, Vatikan. Hadir dalam audiensi tersebut adalah Mayong Suryo Laksono, Bonfilio Mahendra Wahanaputera, Asni Ovier Dengen Paluin, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, dan Rm Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo. Delegasi PWKI dan KWI didampingi oleh Rm Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Vatikan yang berasal dari Indonesia.

Proses Pembuatan Patung Yusuf Arimatea

Patung ini dibuat berdasarkan desain AM Putut Prabantoro, founder PWKI. Menurut Putut, ini adalah karya pertama di Indonesia yang menggambarkan adegan penurunan tubuh Yesus dari salib. Ia mengatakan bahwa tidak mudah menemukan patung serupa di belahan dunia lain, termasuk di Roma, Italia.

Putut mengakui bahwa ia meminta bantuan Mas Nico dari Brata Gallery di Yogya untuk membuat patung tersebut. Sebelumnya, ia melakukan penelusuran melalui internet dan menghubungi pematung di berbagai kota di Indonesia. Namun, banyak dari mereka meminta contoh atau model jadi karena sulitnya membuat patung seperti ini.

Menurut Putut, desain patung ini dibuat berdasarkan rekonstruksi dari cerita kakaknya, L Putut Widiantoro. Kakaknya menerima bisikan seorang pria serta penampakan (vision) tentang kisah penurunan tubuh Yesus oleh Yusuf Arimatea. Oleh Widiantoro, adiknya diminta untuk mempersembahkan patung tersebut kepada Paus.

Detail Simbolik pada Patung

Putut menyebutkan dua hal penting dalam patung ini: warna dan nama. Dalam penglihatan kakaknya, adegan penurunan Yesus dari salib itu berwarna. Setiap tokoh memiliki warna sendiri, terutama dalam pakaian yang dikenakan. Namun, karena fokus utamanya adalah Yusuf dari Arimatea, Putut meminta pembuat patung untuk memberi warna khusus pada tokoh utamanya. Sementara tokoh-tokoh lain diberi warna hitam.

“Alasannya diberi warna hitam selain Yusuf Arimatea karena warna hitam menjelaskan peristiwa duka cita. Kecuali Yusuf Arimatea, semuanya diberi warna hitam,” ujarnya.

Selain itu, Putut juga memastikan bahwa nama patung ditulis dalam bahasa Ibrani dan Latin. Ia berkonsultasi dengan dua pastor, Rm Markus Solo Kewuta SVD dan Rm Antonius Suhermanto, untuk memastikan penulisan nama yang benar.

Perjalanan Ke Vatikan

Penentuan keberangkatan ke Vatikan diputuskan oleh Mgr Agustinus Tri Budi Utomo. Menurut Mayong Suryo Laksono, Uskup Surabaya itu memutuskan bahwa penandatanganan MOU harus dilakukan pada Rabu, 25 Maret 2026. Alasannya adalah karena Uskup Surabaya hanya memiliki lima hari, yaitu 23–27 Maret, dan harus tiba di Surabaya pada 28 Maret.

Selain itu, tanggal 25 Maret merupakan pesta Bunda Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel. Kabar gembira itu terkait dengan kehendak Allah agar Maria menjadi seorang bunda dari bayi yang kelak akan dinamai Yesus.

Perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat menyebabkan gangguan jalur penerbangan dan meningkatnya harga tiket pesawat ke Eropa. Keberangkatan ke Roma hampir ditunda oleh Mgr Didik, panggilan akrab Uskup Surabaya tersebut.

Kepada Mgr Didik dan Rm Markus Solo Kewuta SVD, Putut menceritakan perjalanan kisah patung Yusuf Arimatea. Patung ini dimaknai sebagai suatu rahasia atau misteri oleh Uskup Surabaya. Dalam misa kudus pada Rabu (25/03/2026), sebagian makna misteri itu “dibongkar” di kapel Biara St Maria Teresa Scrilli, di Via Baglioni 10, Roma.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *