Pemandangan megah dan magis di Gwanghwamun Square beberapa waktu lalu masih terasa dalam ingatan banyak orang. Dengan Istana Gyeongbokgung sebagai latar belakang, BTS kembali tampil sebagai grup utuh dengan album bertajuk ARIRANG. Selain vokal dan koreografi yang menggugah jiwa, satu hal yang benar-benar mencuri perhatian adalah pilihan fashion mereka.
Kostum yang dikenakan bukan sekadar outfit stage biasa, melainkan sebuah pernyataan budaya. Bersama desainer ternama Korea, Jay Songzio (Creative Director brand SONGZIO), BTS tampil dengan koleksi yang diberi judul Lyrical Armor. Konsep ini menggabungkan elemen tradisional dan modern, menciptakan kesan yang unik dan berkesan.
Filosofi Lyrical Armor: Perisai yang Penuh Perasaan
Jay Songzio menjelaskan bahwa konsep utama dari Lyrical Armor adalah perpaduan antara baju zirah atau armor tentara era awal Dinasti Joseon dengan kelembutan pakaian tradisional Korea, Hanbok. Mengapa harus zirah? Ia ingin menggambarkan BTS sebagai sosok pahlawan generasi baru. Korea memiliki sejarah panjang tentang perjuangan dan emosi yang disebut “Han”—sebuah rasa duka, kerinduan, serta ketangguhan yang mendarah daging. Melalui Lyrical Armor, BTS seolah menjadi pejuang yang membawa beban sejarah tersebut, namun mengubahnya menjadi harapan untuk masa depan yang lebih cerah.
Ini bukan armor besi yang kaku, melainkan armor yang “lirikal”—fleksibel, bergerak mengikuti tarian, dan terbuat dari material seperti katun serta linen yang ditenun tangan. Ini adalah simbol kekuatan yang tetap membumi dan penuh keanggunan.
Monokrom yang Penuh Tekstur
Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa semuanya serba hitam dan putih? Pilihan palet monokrom ini bukan tanpa alasan. Jay Songzio ingin fokus pada siluet dan konstruksi. Tanpa gangguan warna-warni yang mencolok, mata kita dipaksa melihat detail potongan asimetris, jahitan yang sengaja diekspos, dan lapisan kain yang mengalir.
Warna hitam melambangkan otoritas dan kedalaman sejarah, sementara warna putih memberikan kesan spiritualitas dan kemurnian. Saat mereka menari di depan gerbang Gwanghwamun, kontras monokrom ini membuat mereka terlihat seperti lukisan tinta Cina yang hidup di tengah kota modern.
Satu Grup, Tujuh Karakter Berbeda
Yang membuat koleksi ini sangat spesial adalah bagaimana setiap member diberikan “peran” simbolik dalam narasi Arirang. Jay Songzio tidak memberikan pakaian yang seragam, melainkan sebuah interpretasi karakter:
-
RM (The Hero/Leader)
Kostum Namjoon menonjolkan pundak yang kokoh dengan potongan jaket panjang yang menyerupai jubah panglima. Ada detail plat bertumpuk yang mereferensikan baju zirah tradisional, mempertegas posisinya sebagai pemimpin yang melindungi. -
Jin (The Artist)
Sejalan dengan julukannya sebagai “Worldwide Handsome”, Jin tampil dengan desain yang lebih artistik dan elegan. Fokusnya ada pada keindahan proporsi dan detail yang lebih halus. -
Suga (The Architect)
Kostum Suga menggabungkan struktur yang tegas dengan siluet yang rapi. Ini menggambarkan perannya sebagai kreator dan penyusun pondasi musik BTS yang kokoh. -
J-Hope (The Sorikkun/Storyteller)
Terinspirasi dari penyanyi tradisional Pansori, pakaian Hobi dirancang untuk mendukung gerakan tariannya yang ekspresif. Ada elemen kain yang melambai-lambai, seolah ia sedang menceritakan kisah lewat setiap gerakannya. -
Jimin (The Poet)
Jimin tampil dengan ornamen yang lebih lembut dan romantis, hampir menyerupai perhiasan. Ini sangat cocok dengan gaya tariannya yang kontemporer dan penuh perasaan, layaknya seorang pujangga yang sedang berpuisi di atas panggung. -
V (The Doryeong/Nobleman)
Taehyung merepresentasikan sosok Seonbi atau bangsawan intelektual. Gayanya sangat sophisticated, memberikan aura pria terhormat yang misterius. -
Jungkook (The Vanguard/Pioneer)
Sebagai yang termuda dan selalu berada di depan, kostum Jungkook memiliki sentuhan modern yang lebih berani. Uniknya, atas permintaan Jungkook sendiri, kemejanya ditambahkan aksen lukisan kuas kasar yang terinspirasi dari seni lanskap Korea, memberikan kesan pemberontak namun tetap berakar pada tradisi.
Partisipasi Aktif Para Member
Menurut Jay Songzio, kolaborasi ini bukan hanya soal desainer memberikan baju lalu dipakai. Para member BTS terlibat sangat dalam. Mereka memberikan masukan tentang bagaimana kain tersebut harus bergerak saat mereka melakukan koreografi yang intens. Mereka ingin “keanggunan Hanbok” tetap terasa meskipun mereka sedang membawakan lagu-lagu modern yang enerjik.
Misalnya, penggunaan teknik Junbeop (teknik tekstur dalam lukisan tradisional Korea) pada permukaan pakaian adalah hasil diskusi panjang untuk menciptakan efek visual yang terlihat “berumur” namun mewah.
Pesan Global dari Gwanghwamun
Memilih Gwanghwamun sebagai panggung comeback dan mengenakan desainer lokal papan atas adalah sebuah pernyataan politik-budaya yang kuat. Dengan latar belakang patung Laksamana Yi Sun-sin dan Raja Sejong, BTS memposisikan diri mereka bukan sekadar idol, melainkan duta budaya. Kostum Lyrical Armor ini juga menjadi jembatan antara masa lalu Joseon yang penuh perjuangan dengan masa depan global yang penuh kemungkinan. Mereka seolah ingin mengatakan bahwa identitas Korea bukanlah sesuatu yang kuno, melainkan sesuatu yang keren, modern, dan bisa dinikmati oleh siapa saja di seluruh dunia.
Jadi, mana nih dari ketujuh look “Lyrical Armor” ini yang jadi favorit kamu?












