Sosok Hendrik Irawan dan Kontroversi di Balik Program Makanan Bergizi Gratis
Hendrik Irawan, seorang pemilik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Batujajar, Cimahi, Jawa Barat, kini menjadi sorotan publik setelah pernyataannya mengenai pendapatan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial. Pernyataan ini memicu berbagai reaksi dari masyarakat dan netizen.
Hendrik beberapa kali membagikan aktivitas dapur serta operasional distribusi makanan bergizi melalui akun TikTok miliknya. Dalam salah satu unggahannya, ia menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan pendapatan hingga Rp6 juta per hari sebagai mitra program MBG. Pernyataan tersebut kemudian menyebar dan memicu beragam tanggapan dari netizen.
Banyak yang menilai pengakuan itu tidak tepat disampaikan di tengah polemik pelaksanaan program MBG di berbagai daerah. Selain nominal pendapatan, gaya Hendrik saat membuat konten juga menjadi sorotan. Ia terlihat beberapa kali berjoget sambil memperlihatkan area dapur MBG yang dikelolanya. Konten tersebut memicu cibiran dan komentar negatif di berbagai platform media sosial.
Merasa dirugikan oleh komentar yang dinilai berlebihan, Hendrik kemudian melaporkan akun-akun yang dianggap menghina dirinya ke Polres Cimahi. Ia menyebut ada dua akun yang dilaporkan, yaitu akun yang meng-up tanpa izin dan akun Instagram yang mencaci maki tanpa dasar bukti. Hendrik juga menyatakan akan melanjutkan laporan tersebut ke Polda Jawa Barat.
Menurut Hendrik, tidak ada kesalahan dalam pernyataannya soal insentif Rp6 juta per hari karena angka tersebut sesuai ketentuan program. Ia menegaskan bahwa dari jurnal BGN sudah dituangkan bahwa mitra berhak menerima insentif sebesar itu. Namun, ia merasa narasi yang dibuat oleh orang lain tidak baik dan mengganggu reputasinya.
“Program ini sangat bagus, saya sebagai mitra hanya ingin program ini berkelanjutan dengan menjaga nama baik presiden, nama baik BGN, tapi anda membuat opini tidak baik,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa pada tanggal 26, ia akan resmi melaporkan pihak-pihak yang dianggap menyebar informasi palsu.
Dalam unggahan lain, Hendrik memberikan peringatan keras kepada para pengguna media sosial yang menurutnya telah menyerang nama baik dirinya. Ia menulis bahwa setiap cacian dan makian akan dipertanggungjawabkan di depan hukum. Ia menantang siapa pun yang menyerangnya untuk bertanggung jawab atas ucapan mereka di media sosial.
“Setiap cacian makian anda akan dipertanggungjawabkan depan hukum tunggu tangal 26 hari Kamis bulan Maret sayah akan laporkan anda di Polda Jawa Barat Polri tegak lurus Polri benteng masyarakat yang wajib kita hargai negara ini tidak bisa dipermainkan oleh orang orang yang tidak memiliki etika sopan santun anda harus mempertangung jawabkan perkataan anda di sosial media karena anda sudah membuat stetmen tanpa bukti yg merugikan diri sayah nama baik sayah!!!”
Pernyataan Hendrik juga menuai tanggapan dari psikolog Lita Gading. Ia mempertanyakan langkah Hendrik yang ingin membawa komentar netizen ke ranah hukum. “Ini kocak nih kocak nih, ini orang yang selengean, terus lapor polisi. Lu lapor polisinya yang gue kejar. Ngarang aja nih orang kayak begini,” ujarnya.
Lita bahkan menantang Hendrik untuk ikut melaporkan dirinya. “MBG tidak kita benci programnya, tapi yang kita benci orang-orang seperti kamu. Kamu mau laporkan saya juga? silahkan. Aku tunggu kamu laporannya. Orang kayak gini nih yang harusnya kita berantas. MBG carut marut gara-gara kalian,” tambahnya.
Ia juga menyinggung kemungkinan membawa persoalan tersebut ke Mahkamah Konstitusi. “Apa perlu saya mengajukan ke Mahkamah Konstitusi lagi? Supaya enggak ada orang kayak gini, menari di atas penderitaan rakyat Indonesia,” ujarnya.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












