Opini  

Pandangan: Lampu, Timbangan, dan Tangga – Metafora Transparansi dan Akuntabilitas

Membayangkan Ruangan Gelap dan Lampu yang Menyinari

Bayangkan kita masuk ke sebuah ruangan gelap. Kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya: kursi, meja, atau mungkin lubang di lantai. Tanpa lampu, kita hanya bisa menebak-nebak dalam kegelapan. Begitu lampu dinyalakan, semuanya terlihat jelas. Dalam pemerintahan, transparansi diibaratkan sebagai lampu yang membuat kita bisa melihat apa yang terjadi dalam ruang pemerintahan.

Tanpa transparansi, kita tidak akan memahami apa yang direncanakan, dikerjakan atau yang dihasilkan oleh pemerintah. Transparansi berarti pemerintah berani membuka data, informasi, atau proses pengambilan keputusan. Bukan hanya laporan tahunan yang tebal dan penuh jargon, tapi informasi yang sederhana, relevan, dan bisa dipahami masyarakat. Bukan hanya website atau sistem informasi dengan tampilan kosmetik, tapi data capaian dan laporan hasil yang menggambarkan kinerja pemerintah.

Transparansi sejati bukan hanya soal membuka data, melainkan soal membangun komunikasi yang jujur dan mudah dipahami. Rakyat tidak membutuhkan ribuan halaman laporan audit yang teknis; mereka membutuhkan informasi yang relevan, ringkas, dan dapat ditindaklanjuti.

Sayangnya, transparansi di Indonesia terasa seperti pertunjukan teater. Lampu panggung dinyalakan, tirai dibuka, aktor tampil dengan kostum indah. Namun begitu kita menonton, ternyata tidak ada cerita, dan kemudian penonton pulang tanpa memahami apa yang ditonton. Data ada, tapi tidak lengkap. Laporan ada, tapi sulit dipahami. Aplikasi ada, tapi tidak ditindaklanjuti. Transparansi berubah jadi kosmetik politik, bukan alat akuntabilitas.

Akuntabilitas: Timbangan di Pasar

Sekarang bayangkan kita sedang berbelanja cabai di pasar. Penjual bilang satu kilo cabai, tapi kita ingin memastikan timbangannya benar. Akuntabilitas adalah timbangan itu: alat untuk memastikan janji sesuai kenyataan. Dalam pemerintahan, akuntabilitas berarti pejabat publik tidak hanya membuat kebijakan, tetapi juga berani mempertanggungjawabkan hasilnya kepada masyarakat.

Tidak cukup dengan narasi cerita yang indah, tetapi harus membuktikan tindakannya. Seperti timbangan di pasar, akuntabilitas menjadi alat untuk menjaga, mengukur dan memastikan janji pemerintah tidak sekadar kata-kata, melainkan nyata dan dapat dipercaya rakyat.

Mari kita lihat contoh nyata. Dikutip dari laman resmi Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia pada tanggal 15 Agustus 2025 diberitakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau 20 juta anak sekolah, anak belum sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui di seluruh Indonesia. Capaian ini terdengar luar biasa. Namun bagaimana kita bisa menguji dan memastikan klaim tersebut? Di mana sumber data yang bisa dipakai untuk mengukur kebenaran laporan tersebut. Tanpa transparansi, akuntabilitas tidak bisa diuji, karena tidak ada dasar informasi yang dapat digunakan oleh publik.

Transparansi dan Akuntabilitas: Anak Tangga Demokrasi

Transparansi dan akuntabilitas itu ibarat anak tangga yang saling menguatkan. Semakin tinggi pemerintah melangkah dengan transparansi, semakin kokoh akuntabilitas. Dan semakin akuntabel, semakin berani pula pemerintah untuk transparan. Pemerintah yang berani membuka data akan lebih mudah mempertanggungjawabkan kebijakan. Sebaliknya, pemerintah yang terbiasa akuntabel akan lebih percaya diri untuk transparan.

Spiral kepercayaan publik pun terbentuk: keterbukaan melahirkan pertanggungjawaban, pertanggungjawaban melahirkan keberanian untuk lebih terbuka, dan seterusnya hingga pada akhirnya mencapai tingkat legitimasi yang kokoh, di mana kepercayaan publik benar-benar terbangun. Pemerintah perlu membangun tangga ini secara konsisten.

Teknologi Digital: Anak Tangga Licin

Di era digital, teknologi informasi telah menjadi alat utama transparansi. Website resmi, sistem informasi manajemen, portal open data, hingga aplikasi pengaduan publik menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Contoh sederhana: SP4N-LAPOR, aplikasi pengaduan masyarakat. Warga bisa melaporkan masalah pelayanan publik lewat ponsel. Laporan itu masuk ke sistem, diverifikasi, lalu ditindaklanjuti. Ada notifikasi otomatis yang memberi tahu status laporan. Transparan, akuntabel, dan mudah diakses.

Namun, praktiknya belum selalu mulus. Banyak website pemerintah yang tidak diperbarui, portal data yang kosong, atau aplikasi pengaduan yang tidak ditindaklanjuti. Transparansi digital sering berhenti di tampilan, bukan substansi. Ibarat anak tangga yang licin, pemerintah memberi informasi, tanpa data pembuktian, atau membagi data, tapi tidak memberi konteks. Masyarakat mencoba naik, tapi terpeleset karena informasi tidak berguna. Akuntabilitas pun gagal terbentuk.

Transparansi di Indonesia: Antara Harapan dan Kenyataan

Transparansi sering dipuja sebagai solusi atas krisis kepercayaan publik. Banyak peneliti menyebut transparansi sebagai syarat akuntabilitas demokratis, bahkan transparansi adalah senjata utama melawan korupsi. Indonesia sebenarnya sudah punya landasan hukum yang cukup kuat. Ada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia, serta inisiatif Open Government Indonesia.

Namun, komitmen pemerintah masih terlihat rendah. Banyak pejabat melihat transparansi sebagai beban administratif, bukan sebagai strategi membangun kepercayaan. Portal data publik sering tidak diperbarui, laporan keuangan sulit diakses, dan sistem pengaduan masyarakat tidak ditindaklanjuti dengan serius. Dalam praktik sehari-hari, transparansi dengan memanfaatkan teknologi digital masih menghadapi tantangan seperti:

  • Internet terbatas. Di banyak daerah, akses internet masih lemah. Transparansi digital jadi timpang: hanya dinikmati warga kota, sementara di desa masih tertinggal.
  • Data yang sulit dipahami. Misalnya, laporan anggaran pemerintah ditampilkan dalam tabel panjang dengan istilah teknis. Masyarakat awam bingung. Transparansi bukan sekadar membuka data, tapi juga membuatnya bisa dipahami.
  • Budaya birokrasi tertutup. Transparansi bisa menimbulkan kritik, akibatnya, keterbukaan ditunda, laporan disembunyikan, atau informasi hanya diberikan kalau diminta. Padahal, transparansi sejati adalah keterbukaan proaktif.
  • Literasi digital rendah. Tidak semua warga tahu cara membaca data atau menggunakan aplikasi pengaduan. Workshop literasi data masih jarang. Tanpa literasi, transparansi hanya jadi formalitas.

Harapan: Dari Teater ke Realitas

Meski banyak tantangan, optimisme harus tetap dibangun. Transparansi di Indonesia bisa bergerak dari teater ke realitas. Caranya sederhana tapi membutuhkan komitmen:

  • Buka data yang relevan, jangan hanya laporan seremonial.
  • Perbarui data secara rutin. Transparansi bukan sekali tampil, tapi proses berkelanjutan.
  • Menyederhanakan informasi dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
  • Menindaklanjuti pengaduan hingga tuntas, jangan biarkan laporan masyarakat berhenti pada status “sedang diproses.”
  • Literasi digital harus diperkuat melalui edukasi kepada masyarakat agar transparansi yang dibangun bisa dimanfaatkan.

Bayangkan jika setiap pemerintah daerah punya dashboard audit yang bisa diakses publik, portal data yang diperbarui rutin, dan sistem pengaduan yang ditindaklanjuti dengan notifikasi otomatis. Bayangkan jika masyarakat mampu memahami dan memanfaatkan data dan informasi yang disajikan dengan mudah, atau mahasiswa dilibatkan dalam magang untuk menganalisis laporan audit. Semua itu bukan utopia. Kondisi ini bisa diwujudkan jika kita mau naik tangga bersama.

Pemerintah menyediakan pijakan transparansi dan akuntabilitas, masyarakat melangkah, akademisi memberi pegangan, dan media mengawasi. Penutup: Ajakan Berani Transparan.

Transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar konsep akademik, melainkan jalan menuju pemerintahan yang dipercaya rakyat. Ibarat anak tangga, semakin tinggi kita melangkah, semakin kokoh pijakan demokrasi. Pemerintah harus berhenti menjadikan transparansi sebagai teater. Keterbukaan bukan pertunjukan panggung, melainkan komitmen nyata mewujudkan akuntabilitas. Mari kita naik tangga bersama.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *